Semua bayi terlahir dengan perasaan layak, ada rasa natural bahwa dia di terima, di hargai dan di cintai apa adanya… APA ADANYA..
Seiring bertumbuhnya sang bayi menjadi balita, orang tua dan sekitarnya memberikan sesuatu sinyal bahwa si balita tidak dicintai apa adanya…
Bahwa untuk dicintai, si balita harus bertingkah dan bersifat sesuai keinginan orangtuanya dan lingkungannya…
Tepat pada titik ini, kelayakan dan kedamaian yang adalah sifat natural semua manusia terlapisi oleh tayangan ketidaklayakan…
“Bahwa kita harus berpura pura menjadi sesuatu selain diri kita, agar diterima dan dicintai”…
Sejak saat itu manusia terjebak didalam jalinan skenario “perbaikan diri” tanpa batas…
Perbaikan diri yang berbasis dari emosi ketidaklayakan…
